Get cash from your website. Sign up as affiliate.

kumpulbloger

Tampilkan postingan dengan label askep anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label askep anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN SINDROMA NEFROTIK


A. Pengertian
Merupakan suatu kondisi dimana terjadi perubahan fungsi ginjal yang bercirikn hipoproteinemia, oedema, hiperlipidemia, proteinuri, ascites dan penurunan keluaran urine.

B.       Tanda dan Gejala

Sebagai sebuah sindroma (kumpulan gejala), tanda / gejala penyakit sindroma nefrotik meliputi :
-          Proteinuria
-          Hipoalbuminemia
-          Hiperkolesterolemia/hiperlipidemia
-          Oedema
Beberapa gejala yang mungkin muncul antara lain hematuria, azotemia dan hipertensi ringan. Proteinuria (85-95%) terjadi sejumlah 10 –15 gram/hari (dalam pemeriksaan Esbach) . Selama terjadi oedema biasanya BJ Urine meningkat. Mungkin juga terjadi penurunan faktor IX, Laju endap darah meningkat dan rendahnya kadar kalsium serta hiperglikemia.

selengkapnya download di sini

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN TUBERKULOSIS PARU

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN TUBERKULOSIS PARU

PENGERTIAN
Pangertian
Penyakit infeksi kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada paru. Yang biasanya disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis  (Amin, M.,1999).
Faktor Resiko
  • Rasial/Etnik group : Penduduk asli Amerika, Eskimo, Negro, Imigran dari Asia Tenggara. 
  • Klien dengan ketergantuangan alkhohol dan kimia lain yang menimbulkan penurunan status kesehatan. 
  • Bayi dan anak di bawah 5 tahun. 
  • Klien dengan penurunan imunitas : HIV positip, terapi steroid & kemoterapi kanker. 
selengkapnya download didi sini 

Senin, 04 Juli 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIDROSEFALUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIDROSEFALUS

A. KONSEP PENYAKIT.
Pengertian
Hidrosefalus adalah kelebihan akumulasi cairan serebrospinal didalam ventrikrl serebral, ruang arachnoid, atau ruang subdural (cindy smith, 1998)

Etiologi
Secara umum ada dua penyebab hidrosefalus yaitu :
·         Obstruksi aliran
·         Gangguan absorpsi
Jenis
Hidrosefalus ad dua macam yaitu :
·         Hidrosefalus non komunikas (tife tidak berhubungan)
Disebabkan karena terjadinya obstruksi pada aliran cairan serebrospinal (CSS) penyebab antara lain 
  • Kelaian bawaan (kongenital) 
  • Infeksi 
  • Neoplasma
  •  Perdarahan
 selengkapnya download disini

Sabtu, 02 Juli 2011

askep kejang demam


  Latar Belakang
Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain sebagai penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya mengalami kejang demam. 
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan. (Ngastiyah, 1997; 229).
Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki. (ME. Sumijati, 2000;72-73)
Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari lab./SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kejang demam. Pada tahun 1999 ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0 %). Pada tahun 2000 ditemukan pasien kejang demam 132 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0 %). Dari data di atas menunjukkan adanya peningkatan insiden kejadian sebesar 37%.

Sabtu, 18 Juni 2011

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN THYPOID FEVER

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN THYPOID FEVER

I.       Pengertian
Thypoid fever/demam tifoid atau thypus abdominalis merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran (T.H. Rampengan dan I.R. Laurentz, 1995). Penularan penyakit ini hampir selalu terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

II.    Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman Samonella Thposa/Eberthela Thyposa yang merupakan kuman negatif, motil dan tidak menghasilkan spora, hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 700C dan antiseptik. Salmonella mempunyai tiga macam antigen, yaitu Antigen O=Ohne Hauch=somatik antigen (tidak menyebar) ada dalam dinding sel kuman, Antigen H=Hauch (menyebar), terdapat pada flagella dan bersifat termolabil dan Antigen V1=kapsul ; merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis. Ketiga jenis antigen ini di manusia akan menimbulkan tiga macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.

selengkapnya download di
http://www.ziddu.com/download/15387807/ASUHANKEPERAWATANANAKDENGANTHYPOIDFEVER.docx.html

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN GROWTH DELAY DAN GOVERNMENT DELAY

ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN GANGGUAN GROWTH DELAY DAN GOVERNMENT DELAY


I.       KONSEP DASAR
A.    Pengertian
Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolic (Soetjiningsih, 1988).
Perkembangan adalah bertambah kemampuan (skill) dalam struktur da fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan. Perkembangan menyangkut adanya proses pematangan.sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa, sehingga masing-msing dapat memenuhi fungsinya termasuk juga emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil iteraksi dengan lingkungan (Soetjiningsih, 1988).



selengkapnya download di 

Kamis, 16 Juni 2011

ASKEP DIARE PADA ANAK

DIARE
DEFINISI
Diare adalah buang air besar (defekasi)  dengan jumlah yinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengan padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari. Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya , yaitu diare akut dan kronis (Mansjoer,A.1999,501).

 Selenkgkapnya Download di 

Rabu, 15 Juni 2011

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK SCHOOL DENGAN KLIEN TB PARU




ASUHAN KEPERAWATAN ANAK SCHOOL DENGAN KLIEN TB PARU

Pangertian
Penyakit infeksi kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada parudisebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkulosis  (Amin, M.,1999)..

Faktor Resiko
  •   Rasial/Etnik group : Penduduk asli Amerika, Eskimo, Negro, Imigran dari Asia Tenggara.
  • Klien dengan ketergantuangan alkhohol dan kimia lain yang menimbulkan penurunan status kesehatan.
  • Bayi dan anak di bawah 5 tahun. 
  • Klien dengan penurunan imunitas : HIV positip, terapi steroid & kemoterapi kanker.
Gejala Klinis
1.       Demam (subfebris, kadang-kadang 40 - 41 C, seperti demam influensa.
2.       Batuk (kering, produktif, kadang-kadang hemoptoe (pecahnya pembuluh darah).
3.       Sesak napas, jika infiltrasi sudah setengah bagian paru.
4.       Nyeri dada, jika infiltrasi sudah ke pleura.
5.       Malaise , anoreksia, badan kurus, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

Pengkajian  (Doegoes, 1999)
1.       Aktivitas /Istirahat
-          Kelemahan umum dan kelelahan.
-          Napas pendek dgn. Pengerahan tenaga.
-          Sulit tidur dgn. Demam/kerungat malam.
-          Mimpi buruk.
-          Takikardia, takipnea/dispnea.
-          Kelemahan otot, nyeri dan kaku.
2.       Integritas Ego :
-          Perasaan tak berdaya/putus asa.
-          Faktor stress : baru/lama.
-          Perasaan butuh pertolongan
-          Denial.
-          Cemas, iritable.
3.       Makanan/Cairan :
-          Kehilangan napsu makan.
-          Ketidaksanggupan mencerna.
-          Kehilangan  BB.
-          Turgor kulit buruk, kering, kelemahan otot, lemak subkutan tipis.
4.       Nyaman/nyeri :
-          Nyeri dada saat batuk.
-          Memegang area yang sakit.
-          Perilaku distraksi.
5.       Pernapasan :
-          Batuk (produktif/non produktif)
-          Napas pendek.
-          Riwayat tuberkulosis
-          Peningkatan jumlah pernapasan.
-          Gerakan pernapasan asimetri.
-          Perkusi :  Dullness, penurunan fremitus pleura terisi cairan).
-          Suara napas : Ronkhi
-          Spuntum : hijau/purulen, kekuningan, pink.
6.       Kemanan/Keselamatan :
-          Adanya kondisi imunosupresi : kanker, AIDS, HIV positip.
-          Demam pada kondisi akut.
7.       Interaksi Sosial :
-          Perasaan terisolasi/ditolak.

Diagnosa Keperawatan
1.       Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.
2.       Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
3.       Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk, dyspnea atau anoreksia
4.       Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, penurunan geraan silia, stasis dari sekresi.
5.       Kurang pengetahuan tentang kondisi, terapi dan pencegahan berhubungan dengan infornmasi kurang / tidak akurat.

Intervensi
Diagnosa Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.
Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif.
Kriteria hasil :
Ü  Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara.
Ü  Mendemontrasikan batuk efektif.
Ü  Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.

Rencana Tindakan :
1.       Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.
R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
2.       Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.
R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.
3.       Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.
R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.
4.       Lakukan pernapasan diafragma.
R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.
5.       Tahan napas selama 3 - 5  detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.
Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.
R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.
6.       Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
R/  Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.
7.       Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.
R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.
8.       Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.
9.    Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
 Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.
Pemberian expectoran.
Pemberian antibiotika.
         Konsul photo toraks.
R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.
           
Diagnosa Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
Tujuan : Pertukaran gas efektif.
Kriteria hasil :
Ü  Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif.
Ü  Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
Ü  Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

Rencana tindakan :
1.         Berikan posisi yang  nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
2.       Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.
R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
3.       Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
4.       Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
5.         Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
6.       Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.
Pemberian antibiotika.
Pemeriksaan sputum dan kultur sputum.
Konsul photo toraks.
R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

Diagnosa Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk, dyspnea atau anoreksia
Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
Ü Menyebutkan makanan mana yang tinggi protein dan kalori
Ü Menu makanan yang disajikan habis
Ü Peningkatan berat badan tanpa peningkatan edema

Rencana tindakan
1.       Diskusikan penyebab anoreksia, dispnea dan mual.
R/ Dengan membantu klien memahami kondisi dapat menurunkan ansietas dan dapat membantu memperbaiki kepatuhan teraupetik.
2.       Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan.
R/ Keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan.
3.       Tawarkan makan sedikit tapi sering (enam kali sehari plus tambahan).
R/ Peningkatan tekanan intra abdomen dapat menurunkan/menekan saluran GI dan menurunkan kapasitas.
4.       Pembatasan cairan pada makanan dan menghindari cairan 1 jam sebelum dan sesudah makan.
R/  cairan dapat lebih pada lambung, menurunkan napsu makan dan masukan.
5.       Atur makanan dengan protein/kalori tinggi yang disajikan pada waktu klien merasa paling suka untuk memakannya.
R/ Ini meningkatkan kemungkinan klien mengkonsumsi jumlah protein dan kalori adekuat.
6.       Jelaskan kebutuhan peningkatan masukan makanan tinggi elemen berikut
a.       Vitamin B12 (telur, daging ayam, kerang).
b.       Asam folat (sayur berdaun hijau, kacang-kacangan, daging).
c.       Thiamine (kacang-kacang, buncis, oranges).
d.       Zat besi (jeroan, buah yang dikeringkan, sayuran hijau, kacang segar).
R/ Masukan vitamin harus ditingkatkan untuk mengkompensasi penurunan metabolisme dan penyimpanan vitamin karena kerusakan jarinagn hepar.
7.       Konsul dengan dokter/shli gizi bila klien tidak mengkonsumsi nutrien yang cukup.
R/ Kemungkinan diperlukan suplemen tinggi protein, nutrisi parenteral,total, atau makanan per sonde.

Daftar Pustaka


Amin, M., (1999). Ilmu Penyakit Paru.  Surabaya :Airlangga Univerciti Press

Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarta : EGC

                           (2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC

Doengoes, (1999). Perencanaan Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.

jejering sosial yang membayar memebrnya, buruan join

klik dapet duwit

DbClix

daftar mp3 gratis